Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Teknologi Budidaya Salak Sari Intan Sebagai komoditas Unggulan Bintan Provinsi Kepulauan Riau

Rabu, 22 April 2020 | 18:48 WIB Last Updated 2020-04-22T11:48:36Z


Kepri - Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Riau melakukan kerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepulauan Riau untuk pengembangan salak sari intan. Budidaya salak sari intan dikembangkan di lahan Balai Benih Induk (BBI) wilayah Tembeling Kabupaten Bintan sejak tahun 2019.


Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., mengatakan, pada tahun 2020 dilakukan pemeliharan dengan melalukan pemupukan, penyiraman, pengendalian OPT sekaligus penurunan temperatur dengan pemasangan paranet.

Salah satu misi Kabupaten Bintan yaitu pengembangan potensi pariwisata dan agribisnis, sesuai dengan kerangka kebijakan dalam RJPMN 2015‐2019. Selain itu, letak geografis Pulau Bintan sangat strategis, berbatasan langsung dengan Batam, Singapura dan Malaysia yang merupakan pusat bisnis dan keuangan di Asia Pasifik. “Penanaman salak sari intan di Bintan bertujuan pemberdayaan wilayah perbatasan sesuai dengan program pemerintah untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bintan telah ditentukan sebagai kawasan perbatasan. Bintan merupakan daerah kunjungan wisata baik dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu Bintan memiliki potensi pasar domestik dan ekspor yang menjanjikan dan masih terbuka lebar, “tutur Sugeng.

Melli Fitriani, SP., Peneliti BPTP Kepri menjelaskan, salak sari intan merupakan varietas unggul baru (VUB) Badan Litbang pertanian yang dilepas tahun 2009 dan 2010. Terdapat tiga varietas salak yang dilepas yaitu Sari Intan 48, Sari Intan 295, dan Sari Intan 541.  Salak ini hasil kerjasama antara Badan Litbang Pertanian, dalam hal ini Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) dengan Kabupaten Bintan melalui kegiatan pemuliaan partisipatif. Sari intan merupakan singkatan dari Salak Research Intitute of Fruit Bintan. Keunggulan salak ini adalah rasa manis (TSS : 19 – 21 oBrix), daging tebal (0,3 – 1,3 cm), tidak sepat, beraroma harum, Kadar vitamin C berkisar 31.88 – 85.42 mg/100g dan mempunyai daya simpan lama (10-14 hari).

Luas areal pengembangan salak Sari Intan sampai tahun 2019 di Kabupaten Bintan seluas 4,010 ha yang berlokasi di Kec. Teluk Sebung, Kec. Toapaya, Kec. Bintan Utara  Kuning dan Kec. Bintan Timur. Penanaman sari intan pertama kali tahun 2015 di Kec. Toapaya. Tanaman salak yang ditanam pada tahun 2015-2016 sudah berbuah dan dapat dijadikan pohon induk yang akan menghasilkan benih. Salak sari intan mulai berbuah umur 2 tahun setelah tanam. Petani di Kecamatan Toapaya sudah panen dan memasarkan buah salak Sari Intan mulai tahun 2017. Harga jual salak Sari Intan ditingkat petani saat ini yaitu Rp. 20.000,-/kg. Harga ini lebih tinggi dibandingkan harga salak lokal. Meskipun cukup tinggi, untuk mendapatkannya harus menunggu, karena keterbatasan jumlah buah dan jumlah pohon salak Sari Intan. Harga yang menjanjikan dan permintaan yang banyak, usaha budi daya salak sari intan sangat potensial untuk dikembangkan. Dengan demikian, tanaman salak sari intan mempunyai potensi yang sangat besar untuk diusahakan.

Lanjut Melli, salak Sari Intan banyak disukai oleh konsumen, karena rasa yang manis dan tidak ada sepat juga beraroma harum menambah daya tarik konsumen. Namun ukuran buah salak sari intan belum maksimal. Ukuran buah terbesarnya adalah 22-25 biji/kg dimana ukuran ini masih tergolong kecil. Hal ini disebabkan oleh tanaman yang baru mulai berbuah dan belum dilakukan penjarangan buah. Oleh karena itu, tim peneliti BPTP Kepri akan melakukan penelitian pembesaran buah salak sari intan melalui penjarangan, pemupukan yang optimal, pengairan yang cukup dan pemangkasan.

Tahun 2019, BPTP Kepri telah menanam salak sari intan di kebun koleksi balai benih induk (BBI) prov. Kepri sebanyak 200 pokok yang terdiri dari 50 pokok sari intan 48, 50 pokok sari intan 295 dan 100 pokok sari intan 541. “Salak sari intan diperbanyak secara vegetatif melalui cangkok anakan. Cangkok ini membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan bibit, minimal 6 bulan. Selain itu, salak juga bisa diperbanyak secara generative melalui biji, namun memiliki kelemahan yaitu kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena mungkin terjadi penyerbukan silang dan sulit mengetahui bibit yang dihasilkan jantan atau betina,“ jelas Melli.

Secara singkat, teknik budidaya salak sari intan sebagai berikut.
Pengolahan lahan
Lahan yang akan ditanami salak dibersihkan dari gulma, tonggak kayu, dibuat lubang tanam ukuran 60 x 60 x 60 cm dan pemupukan dasar serta pengapuran. Pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang sapi dengan dosis 10 kg / lubang tanam dan dosis pengapuran 1 kg/lubang tanam karena tanahnya agak masam (hasil uji PUTK; perangkat uji tanah kering) 
Penanaman tanaman pelindung
Tanaman salak tidak tahan terhadap sinar matahari penuh (100%), tetapi cukup 50-70%, karena itu diperlukan adanya tanaman pelindung. Tanaman yang bisa dijadikan pelindung seperti tanaman berkayu, durian, manga, lamtoro dan sejenisnya. Selain itu, tanaman pisang juga bisa sebagai tanaman pelindung. Tanaman pisang ditanam 3 bulan sebelum tanaman salak ditanam. Jarak tanam pisang yang digunakan adalah tanaman pisang kepok dengan jarak tanam 6 m x 2,5 m.
Penanaman salak sari intan
Bibit salak sari intan ditanam dengan jarak tanam 3 m x 2.5 m. Kebutuhan bibit dalam 1 ha adalah 1000 pokok. Bibit salak sari intan yang digunakan adalah bibit cangkok anakan berasal dari blok fondasi UPTD Perbenihan, Perbibitan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Perkebunan dan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (P2TPHP2 DKP2) Kab. Bintan melalui kerjasama dengan BPTP Kepri.
Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan meliputi pemupukan, pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman), penyiraman, penyiangan, pemangkasan daun dan pembumbunan. Pemupukan pertama dilakukan 4 minggu setelah tanam dengan dosis 100 g NPK/tanaman, sedangkan pupuk susulan berikutnya 100 g/tanaman diberikan 3 bulan setelah tanam. Selain pupuk NPK, tanaman salak dipupuk juga dengan POC dengan dosis 1 l/pohon/bulan. Penyiraman dilakukan sesuai kondisi kelembaban tanah. Untuk memudahkan penyiraman, dipasang selang drip. Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati.
Penjarangan buah
Penjarangan buah dilakukan pada buah yang telah berumur 1 bulan setelah perkawinan. Buah yang kecil, posisi terjepit dibuang agar ukuran buah optimal.
Panen
Buah salak sari intan dapat dipanen 160-170 hari setelah penyerbukan, lebih cepat dari salak pondoh. Ciri buah yang bisa dipanen ditandai oleh sisik yang telah jarang, warna kulit buah kehitaman dan bulu-bulunya telah hilang,  bila dipetik mudah terlepas dari tangkai buah.
×
Berita Terbaru Update