INDRAGIRI HILIR, ELITNEWS.COM,– Aktivis lingkungan sekaligus penggerak ekonomi rakyat pesisir, Zainal Arifin Hussein, mengingatkan pemerintah agar pelaksanaan Roadmap Perkelapaan yang baru diluncurkan tidak terjebak hanya pada urusan hilirisasi dan tata kelola niaga. Menurutnya, peta jalan tersebut harus menyentuh sektor hulu yang menjadi penopang utama keberlanjutan industri kelapa, terutama di wilayah pesisir Indragiri Hilir, Riau.
“Kalau bicara kelapa di pesisir Riau, kita tidak bisa memisahkan pohon kelapa dari ekosistem mangrove. Mangrove itu pagar alami, pelindung kebun kelapa dari abrasi dan intrusi air laut. Kalau pagar itu hilang, kebun kelapa akan ikut lenyap,” tegas Zainal, Senin (11/8/2025).
Ia menyoroti kerusakan mangrove yang kian meluas di berbagai titik pesisir Riau. Penyebabnya bukan semata kelalaian petani, melainkan meningkatnya kebutuhan cerucuk kayu bakau untuk pondasi bangunan seiring maraknya pembangunan infrastruktur dan perumahan. Situasi ini diperburuk oleh potensi ancaman industri arang bakau dan ekspansi tambak udang yang mulai mengincar kawasan pesisir.
“Kalau pembangunan dan industri dibiarkan mengorbankan mangrove tanpa rencana mitigasi yang jelas, itu sama saja memutus urat nadi produksi kelapa di masa depan,” ujarnya.
Sebagai pengurus Provinsi Riau Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI), Zainal menegaskan bahwa program peremajaan kelapa yang tertuang dalam roadmap harus diiringi perlindungan ekosistem pendukung di sektor hulu. Tanpa itu, peremajaan hanya akan mempercantik data di atas kertas, tetapi gagal menyelamatkan sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Ia mendorong agar roadmap tidak sekadar bicara soal pabrik, hilirisasi, dan harga jual. Dokumen strategis tersebut juga harus memuat langkah konkret seperti rehabilitasi mangrove, skema pengurangan penggunaan cerucuk kayu bakau dengan material ramah lingkungan, pengetatan izin industri arang, serta pengendalian perluasan tambak udang di kawasan lindung.
“Keberlanjutan kelapa Riau tidak cukup diukur dari berapa banyak produk turunan yang dihasilkan, tetapi dari seberapa kuat petani dan lingkungan pesisir mampu bertahan menghadapi perubahan iklim dan tekanan pembangunan,” tegasnya.
Zainal menutup dengan pesan bernuansa falsafah Melayu, “Kalau roadmap ini ingin benar-benar berpihak pada rakyat, maka hulu dan hilir harus berjalan beriringan. Jangan hanya membicarakan untung dagang, tapi lupakan nafas kehidupan di pesisir. Menjaga tuah berarti memelihara sumber daya yang memberi rezeki, dan melindungi marwah berarti menjaga kehormatan tanah dan laut warisan leluhur. Roadmap perkelapaan harus berdiri di atas prinsip itu.” ****